Wayang Kulit Kembali Menggema di Alun-Alun Pacitan, Bupati Aji: Jadi Ruang Merawat Budaya
PACITAN, Cakrawala8.com — Kerinduan masyarakat Pacitan terhadap pertunjukan wayang kulit akhirnya terobati. Alun-Alun Pacitan kembali dipenuhi masyarakat yang antusias menyaksikan pagelaran wayang kulit semalam suntuk, Sabtu (26/9/2026).
Pagelaran yang digelar Pemerintah Kabupaten Pacitan melalui Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga tersebut menghadirkan dalang Dr. Bagong Pujiono, S.Sn., M.Sn. dari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.
Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji turut hadir dan menyaksikan langsung pertunjukan tersebut. Kehadiran orang nomor satu di Pacitan itu menjadi bagian dari upaya membersamai masyarakat sekaligus menunjukkan perhatian pemerintah daerah terhadap keberlangsungan seni dan budaya tradisional.
Cerita “Bima Perwira” menjadi lakon yang dipentaskan dalam pagelaran tersebut. Antusiasme masyarakat terlihat sejak awal pertunjukan. Ribuan pasang mata memadati kawasan Alun-Alun Pacitan untuk menikmati kembali seni pedalangan yang telah lama dinantikan.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Indrata Nur Bayuaji menyampaikan bahwa pagelaran wayang kulit bukan sekadar hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjaga dan merawat kebudayaan daerah.
Menurut Bupati, pemerintah daerah berupaya menghadirkan ruang bagi masyarakat untuk kembali menikmati berbagai kesenian tradisional yang menjadi bagian dari kekayaan budaya Pacitan.
“Wayang kulit merupakan bagian dari kekayaan budaya yang harus terus kita rawat. Pemerintah tentu ingin agar kesenian tradisional tetap mendapatkan ruang untuk berkembang dan dinikmati masyarakat,” demikian poin yang disampaikan Bupati dalam kegiatan tersebut.
Bupati juga menilai antusiasme masyarakat menjadi bukti bahwa kesenian tradisional masih memiliki tempat di tengah perkembangan zaman.
“Melihat masyarakat yang hadir dan antusias malam ini, tentu menjadi kebahagiaan tersendiri. Ini menunjukkan bahwa masyarakat Pacitan masih memiliki kecintaan terhadap seni dan budaya tradisional,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan seperti ini tidak berhenti pada satu pagelaran saja. Menurutnya, keberadaan agenda seni budaya secara berkelanjutan penting untuk menjaga regenerasi sekaligus memperkenalkan kesenian tradisional kepada generasi muda.
“Harapannya, kegiatan seni dan budaya seperti ini bisa terus digelar. Anak-anak muda perlu diberikan kesempatan untuk mengenal, mencintai, dan kemudian ikut melestarikan budaya yang kita miliki,” lanjutnya.
Selain sebagai ruang pelestarian budaya, pagelaran wayang kulit juga dinilai dapat menjadi bagian dari penguatan sektor pariwisata Pacitan.
“Budaya dan pariwisata memiliki keterkaitan yang kuat. Ketika kesenian kita hidup, masyarakat bergerak dan ruang-ruang publik menjadi lebih hidup. Ini juga bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan yang datang ke Pacitan,” jelasnya.
Bupati pun mengapresiasi seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan pagelaran, termasuk ISI Surakarta yang turut berkontribusi melalui kehadiran dalang dan jajaran akademisinya.
“Kami menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang telah mendukung kegiatan ini. Kolaborasi antara pemerintah daerah, masyarakat dan institusi pendidikan seni sangat penting untuk menjaga keberlanjutan kebudayaan,” katanya.
Pagelaran tersebut turut dihadiri jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Pacitan serta tamu kehormatan dari ISI Surakarta, yakni Rektor ISI Surakarta Dr. Bondet Wrahatnala dan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Kerja Sama, dan Humas Dr. Zulkarnain M.
Kehadiran para tokoh tersebut semakin menegaskan bahwa pelestarian seni tradisional membutuhkan kolaborasi lintas pihak.
Semalam suntuk, Alun-Alun Pacitan pun berubah menjadi ruang budaya. Di tengah gemerlap lampu panggung dan alunan gamelan, wayang kulit kembali hadir menyapa masyarakat—menghidupkan kembali tradisi sekaligus membuktikan bahwa warisan budaya masih memiliki tempat kuat di hati masyarakat Pacitan.


Komentar
Posting Komentar