Serandul Terancam Hilang, Dusun Pendem Berjuang Selamatkan Warisan Seni Petani

Serandul Terancam Hilang, Dusun Pendem Berjuang Selamatkan Warisan Seni Petani


Wonogiri, Cakrawala8.com — Kesenian tradisional Serandul yang tumbuh dan berkembang di Dusun Pendem, Desa Gambirmanis, Kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri, kini menghadapi tantangan berat. Minimnya regenerasi dan perubahan zaman membuat kesenian rakyat yang sarat pesan kehidupan tersebut semakin jarang dipentaskan.

Padahal, bagi masyarakat Dusun Pendem, Serandul bukan sekadar hiburan. Kesenian ini merupakan bagian dari warisan budaya leluhur yang menggambarkan kehidupan masyarakat pedesaan, khususnya para petani.

Dari panggung sederhana, para pemain Serandul dahulu mengangkat berbagai kisah kehidupan sehari-hari. Mulai dari kehidupan rumah tangga, kegiatan bertani, gotong royong, hingga berbagai persoalan sosial di tengah masyarakat.

Pesan-pesan moral tersebut disampaikan melalui dialog, guyonan, sindiran, tembang, dan cerita yang dekat dengan kehidupan warga. Dengan cara itu, nasihat dapat diterima masyarakat tanpa kesan menggurui.

“Kesenian ini dulu hidup di setiap hajatan dan bersih desa. Isinya tentang nasihat berkeluarga, guyonan wong nandur, meluku dan berbagai kehidupan petani. Sekarang anak muda sudah jarang yang mau melestarikan,” ujar Katijo, Kepala Dusun Pendem.

Dihidupkan Para Tokoh Desa

Menurut catatan warga, Serandul di Dusun Pendem dahulu dihidupkan oleh sejumlah tokoh masyarakat, di antaranya Kasimin, Sardi, Sidomulyo, Tuhiran, Marjo, Darso, dan Sirman.

Mereka tidak hanya menjadi pemain, tetapi juga turut menyusun cerita dan naskah yang mengambil bahan dari realitas kehidupan masyarakat desa.

Pementasan dilakukan secara sederhana dengan iringan alat musik tradisional seperti kendang, angklung, serta terbang atau ketipung. Meski sederhana, pertunjukan tersebut mampu menjadi hiburan sekaligus sarana menyampaikan pesan kehidupan kepada masyarakat.

Cerita yang dibawakan pun sangat dekat dengan keseharian warga. Penonton dapat melihat gambaran keluarga yang hidup rukun, semangat gotong royong, kebersamaan ketika musim tanam, hingga berbagai persoalan yang muncul dalam kehidupan rumah tangga dan bermasyarakat.

Cermin Kehidupan Masyarakat

Salah satu kekuatan Serandul terletak pada kemampuannya menggambarkan sisi baik dan buruk kehidupan manusia.

Perilaku positif seperti kerukunan, gotong royong, dan saling membantu menjadi bagian dari cerita. Sebaliknya, perilaku buruk juga ditampilkan sebagai bahan pembelajaran bagi masyarakat.

“Serandul itu cermin. Kalau perilaku buruk, akhirnya akan mendapat kehinaan. Pesannya disampaikan sambil menyanyi secara halus, tetapi sampai kepada masyarakat,” jelas Sardi, salah satu sesepuh Serandul.

Menurutnya, cara penyampaian pesan melalui kesenian membuat masyarakat lebih mudah menerima. Penonton dapat menikmati hiburan, tertawa bersama, sekaligus mendapatkan pelajaran mengenai kehidupan.

Regenerasi Jadi Persoalan Utama

Kini, pementasan Serandul di Dusun Pendem hanya dapat disaksikan pada kegiatan atau acara tertentu. Regenerasi menjadi salah satu persoalan terbesar yang dihadapi para pelaku kesenian tersebut.

Perubahan pola hiburan masyarakat, perkembangan teknologi digital, serta minimnya ketertarikan generasi muda terhadap kesenian tradisional membuat Serandul semakin terpinggirkan.

Kondisi tersebut membuat para sesepuh dan tokoh masyarakat khawatir. Sebab, apabila tidak ada generasi penerus, pengetahuan mengenai cerita, naskah, musik, dan tata cara pementasan Serandul berpotensi ikut hilang.

Berharap Ada Dukungan Pelestarian

Kepala Dusun Pendem bersama warga berupaya mempertahankan Serandul dengan mendokumentasikan naskah-naskah lama serta mendorong adanya ruang latihan bagi generasi muda.

“Kami tidak minta mewah. Cukup ada wadah latihan dan pemerintah desa mendukung. Biar anak cucu tahu, dulu orang tua kita menyampaikan nasihat lewat seni, bukan hanya melalui ceramah,” kata Katijo.

Warga juga berharap Dinas Kebudayaan Kabupaten Wonogiri dapat ikut melakukan pendataan, dokumentasi, pembinaan, serta memberikan ruang bagi Serandul untuk kembali berkembang.

Bagi masyarakat Dusun Pendem, melestarikan Serandul berarti menjaga lebih dari sekadar sebuah pertunjukan seni. Di dalamnya terdapat nilai kekeluargaan, gotong royong, etika bermasyarakat, serta gambaran etos kerja masyarakat petani yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Kini, Serandul berada di persimpangan. Jika regenerasi tidak segera dilakukan, kesenian yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Pendem itu dikhawatirkan hanya akan tersisa sebagai cerita dari para sesepuh kepada anak cucu.

Pewarta: Katman

Komentar

Postingan Populer