Wonogiri –Cakrawala8.com Kecamatan Jatisrono, Kabupaten Wonogiri, telah menjadi salah satu daerah sentra petani jagung setelah tanaman padi. Potensi ekonomi dari hasil panen jagung di kecamatan ini saja mampu mencapai lebih dari Rp94 juta per sekali panen.
Pendamping dan penyuluh pertanian Kecamatan Jatisrono, Sri Wahyuni, menyampaikan bahwa luas lahan sawah yang dialokasikan untuk pertanian jagung di kecamatan tersebut mencapai 1.665 hektare (ha). Sebagian besar lahan tersebut hanya mampu ditanami dan dipanen jagung sebanyak dua kali dalam setahun, sedangkan sebagian kecil lainnya hanya satu kali setahun.
Secara keseluruhan, lahan yang dialokasikan untuk tanaman jagung di Kecamatan Jatisrono mencapai 1.665 hektare, sementara sisanya digunakan untuk tanaman padi serta hortikultura. Rata-rata hasil panen jagung di wilayah ini mencapai 10.670 kg per hektare, dengan harga pasar saat ini Rp5.300 per kg. Dengan demikian, total produksi jagung pipil kering dari seluruh lahan tersebut adalah 1.665 ha × 10.670 kg/ha = 17.765.550 kg.
Sri Wahyuni menjelaskan, “Jika dikalikan dengan harga pasar Rp5.300 per kg, maka potensi ekonomi dari satu kali panen jagung di Kecamatan Jatisrono mencapai 17.765.550 kg × Rp5.300 = Rp94.157.415. Angka ini menunjukkan bahwa potensi ekonomi dari setiap masa panen setidaknya menyentuh ratusan juta rupiah.”
Patmiyati dari Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Jatisrono menambahkan bahwa secara umum, petani jagung masih menjadi mayoritas di wilayah tersebut, meskipun tidak seluruh lahan pertanian ditanami jagung. Sebagian lahan dialokasikan untuk padi dan sayur-mayur, tetapi jagung tetap mendominasi pada awal musim penghujan.
“Secara keseluruhan, lahan petani jagung di Kecamatan Jatisrono seluas 1.665 hektare mampu menghasilkan 17.765.550 kg pipil kering. Dengan harga pasar Rp5.300 per kg, total nilai ekonomi mencapai sekitar Rp94.157.415 per panen. Jika dihitung berdasarkan total luasan lahan, potensi ini tentu sangat signifikan,” ujar Patmiyati.
Ia menegaskan bahwa dalam kondisi saat ini, jika petani mampu mempertahankan produktivitas jagung seperti sekarang saja sudah cukup baik. Namun, sebenarnya potensi untuk mengoptimalkan atau meningkatkan produktivitas masih sangat tinggi.
Produktivitas jagung di Kecamatan Jatisrono dapat ditingkatkan dengan menerapkan metode dan standar operasional prosedur (SOP) pertanian yang benar. Hal ini dapat dilakukan melalui pendampingan intensif dari penyuluh pertanian kepada petani, mulai dari persiapan lahan, penanaman, pengendalian hama dan penyakit, hingga pascapanen.
Intensifikasi pencegahan hama dan penyakit tanaman juga sangat diperlukan agar jagung dapat tumbuh sehat tanpa gangguan. Menurut Patmiyati, selama ini masih banyak petani di kecamatan tersebut yang menanam jagung hanya sebagai kegiatan budaya semata, tanpa menerapkan metode yang baik dan benar.
Oleh karena itu, pendampingan dari pemerintah atau penyuluh pertanian sangat dibutuhkan, mulai dari persiapan tanam hingga pascapanen. Upaya lain untuk meningkatkan produktivitas adalah dengan penyediaan air yang memadai. Sebagian besar sawah di Kecamatan Jatisrono merupakan sawah tadah hujan, sehingga hanya mampu panen jagung dua kali setahun. Minim sekali sawah yang mendapat pasokan air dari irigasi teknis,” jelasnya.
Masih Bisa Ditingkatkan
Penyediaan air dapat dilakukan melalui pembangunan sumur panthek atau sumur bor. Langkah ini sejalan dengan program Pemerintah Kabupaten Wonogiri yang berencana membangun 1.000 sumur panthek di lahan pertanian.
“Jika optimalisasi lahan berhasil, petani pasti akan memperoleh keuntungan yang jauh lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, di mana panen hampir selalu tidak menguntungkan,” pungkas Patmiyati.
(Katman//Nandar)