Gotong Royong Warga Dusun Jati Desa Tanggulangin Jatisrono Wonogiri: Menjaga Kebersihan dan Keakraban
Wonogiri – Cakrawala8.com Pada Minggu, 15 Februari 2026, warga RT 03/RW 02 Dusun Jati, Desa Tanggulangin, Kecamatan Jatisrono, Kabupaten Wonogiri, dengan penuh kesadaran berbondong-bondong melaksanakan gotong royong kerja bakti. Kegiatan ini bertujuan membersihkan saluran air serta memangkas ranting-ranting pohon di pinggir jalan umum yang dianggap mengganggu kenyamanan dan keindahan pandangan.
Tradisi gotong royong masih menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan guyub rukun masyarakat desa di wilayah Kabupaten Wonogiri dan sekitarnya. Biasanya, kegiatan yang sering disebut gugur gunung atau kerja bakti ini dilaksanakan secara berkelompok berdasarkan RT masing-masing dalam satu dusun. Kegiatan ini merupakan warisan turun-temurun yang telah mengakar kuat di kalangan masyarakat pedesaan.
Kegiatan gugur gunung atau kerja bakti umumnya dilakukan pada hari-hari tertentu, seperti Jumat Sehat atau Minggu Bersih. Tujuannya adalah untuk membenahi fasilitas umum yang digunakan bersama serta menjaga kebersihan lingkungan sekitar.
Warga Dusun Jati, Desa Tanggulangin, Kecamatan Jatisrono, Kabupaten Wonogiri, memilih melaksanakan gotong royong kerja bakti kebersihan lingkungan pada hari Minggu. Alasannya, hari libur tersebut memungkinkan seluruh warga, termasuk pegawai negeri dan karyawan yang terikat jadwal kerja, untuk ikut serta secara penuh. Kekompakan dari semua pihak menjadi kunci keberhasilan kegiatan ini.
Gotong royong kerja bakti tidak hanya menjadi tradisi guyub rukun, tetapi juga ajang silaturahmi sesaat. Saat membaur bersama, berbagai lapisan masyarakat dapat saling berinteraksi, menambah keakraban, dan bergurau sambil bekerja.
Usai kegiatan kerja bakti, para ibu-ibu biasanya menyiapkan minuman hangat serta aneka makanan ringan. Mereka membawanya ke pinggir jalan untuk disantap bersama-sama. Sambil melepas lelah, warga berkerumun menikmati secangkir kopi atau teh panas yang diiringi bermacam-macam gorengan dan hidangan khas pedesaan lainnya.
Menanggapi kegiatan tersebut, Ketua RT Mukhayat menyampaikan harapannya agar tradisi gugur gunung atau kerja bakti ini terus dilestarikan hingga generasi mendatang. Menurutnya, melalui kegiatan ini, masyarakat turun-temurun dapat memahami makna dan manfaat gotong royong yang sesungguhnya—bukan sekadar kiasan, melainkan nilai luhur yang sangat luar biasa.
“Jika bukan dari lingkup terkecil, yaitu keluarga, lalu dari lingkup mana lagi kita bisa memberikan contoh baik tentang makna filosofi Jawa yang perlu dilestarikan untuk anak cucu kita kelak,” ujar Mukhayat.
(Katman//Shdi)