Penghijauan Kolaboratif TNI-Masyarakat di Wonogiri: Menanam 1.000 Pohon Buah sebagai Investasi Ekologi dan Ekonomi Lokal
Wonogiri, Cakrawala8.com-6 Desember 2025 – Di tengah ancaman deforestasi dan perubahan iklim yang semakin nyata di wilayah Soloraya, Kodim 0728/Wonogiri mengambil langkah konkret melalui program Pembinaan Lingkungan Hidup Tahun 2025 dengan menanam seribu bibit pohon buah di kawasan kritis Dusun Soko Gunung, Desa Sendang, Kecamatan Wonogiri. Kegiatan yang berlangsung pada Jumat (5/12/2024) itu memadukan misi konservasi lingkungan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat pedesaan.
Berbeda dari aksi penanaman pohon seremonial biasa, inisiatif ini secara khusus memilih 500 bibit jambu kerikil (Psidium guajava var. pyriferum) dan 500 bibit rambutan (Nephelium lappaceum) karena dua pertimbangan strategis: kemampuan adaptasi tinggi terhadap kondisi tanah marginal di ketinggian Puncak Joglo serta potensi panen buah yang dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi warga setempat dalam tiga hingga lima tahun mendatang.
“Pemilihan jenis pohon buah bukan sekadar simbolik, melainkan kalkulasi matang antara rehabilitasi lahan kritis dan penguatan ketahanan ekonomi rumah tangga pedesaan,” ungkap Pasiter Kodim 0728/Wonogiri, Kapten Inf Jumadi, usai memimpin penanaman bersama ratusan warga dan prajurit.
Lokasi Puncak Joglo dipilih karena termasuk zona merah erosi dan longsor pada musim hujan. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Wonogiri mencatat, dalam lima tahun terakhir, kawasan lereng selatan Gunung Soko ini mengalami penurunan tutupan vegetasi hingga 18 persen akibat alih fungsi lahan dan penebangan liar.
Partisipasi masyarakat menjadi elemen krusial dalam desain program ini. Sebelum penanaman, Kodim menggelar focus group discussion dengan kelompok tani setempat untuk memetakan pola pemeliharaan pasca-tanam. Hasilnya, warga sepakat membentuk “Kelompok Peduli Pohon Buah Soko Gunung” yang bertugas melakukan penyiangan, pemupukan organik, dan pengawasan rutin selama tiga tahun pertama—masa kritis kelangsungan hidup bibit.
“Kami tidak ingin ini menjadi proyek serimonial yang mati setelah seremoni. Komitmen pemeliharaan bersama menjadi syarat mutlak keberhasilan,” tegas Kapten Jumadi.
Dari perspektif ekologi, seribu pohon yang ditanam diperkirakan mampu menyerap sekitar 20 ton karbon dioksida per tahun setelah mencapai usia dewasa, sekaligus memperbaiki siklus air tanah di kawasan resapan. Sementara dari sisi ekonomi, jika 70 persen bibit berhasil tumbuh optimal, warga berpotensi memperoleh tambahan pendapatan rata-rata Rp15–20 juta per hektare per tahun dari penjualan jambu kerikil dan rambutan pada tahun kelima.
Kegiatan ini sekaligus menjadi model replikasi bagi satuan TNI lainnya di Jawa Tengah dalam mengintegrasikan program ketahanan lingkungan dengan pemberdayaan masyarakat. “Bersatu Dengan Alam Untuk Indonesia Hijau bukan sekadar slogan, melainkan doktrin operasional yang kami jalankan di lapangan,” tandas Kapten Inf Jumadi.
Keberlanjutan program ini kini bergantung pada konsistensi kolaborasi antara institusi militer dan masyarakat sipil—sebuah pola yang jarang ditemui dalam inisiatif penghijauan selama ini, namun terbukti efektif di beberapa negara Asia Tenggara seperti Thailand dan Vietnam.
Dengan langkah ini, Wonogiri tidak hanya menambah luas tutupan hijau, tetapi juga menabur benih harapan ekonomi baru bagi generasi mendatang di lereng selatan Gunung Soko.
Pewarta (Katman)