Wonogiri, Cakrawala8.com 26 November 2025 - Pemerintah Kabupaten Wonogiri menganggarkan sekitar Rp5 miliar sebagai Biaya Tak Terduga (BTT) guna mengantisipasi gelombang bencana alam yang diprediksi meningkat seiring memasuki puncak musim penghujan. Dana ini menjadi benteng terakhir penyelamatan bagi ribuan warga yang tinggal di wilayah rawan longsor, puting beliung, serta kebakaran hutan dan permukiman.
Bupati Wonogiri, Setyo Sukarno, usai memimpin Apel Gelar Pasukan Penanggulangan Bencana Geomoterologi di pendapa kabupaten pada Selasa (25/11/2025), mengungkapkan bahwa sebagian dari pagu Rp5 miliar tersebut telah terserap untuk penanganan dua peristiwa besar dalam beberapa bulan terakhir: kebakaran hebat di Pasar Kota Wonogiri serta belasan titik longsor yang memutus akses jalan di berbagai kecamatan.
"Anggaran yang kami siapkan memang terbatas, namun kami berkomitmen mencari berbagai terobosan jika nanti ternyata tidak mencukupi. Yang terpenting, setiap bencana yang terjadi harus tetap bisa ditangani secara cepat dan tepat," tegas Setyo Sukarno.
Hingga akhir November 2025, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Wonogiri mencatat sedikitnya 143 kejadian bencana alam dengan kerugian materiil langsung mencapai lebih dari Rp3,32 miliar. Angka tersebut belum mencakup dampak sekunder seperti terganggunya aktivitas ekonomi warga dan biaya pemulihan infrastruktur jangka panjang.
Longsor dan puting beliung masih menjadi jenis bencana yang paling sering terjadi dan tersebar hampir merata di 25 kecamatan. Bupati menyerukan kewaspadaan ekstra kepada masyarakat, khususnya yang bermukim di lereng-lereng bukit dan kawasan terbuka rawan angin kencang.
Ia juga menyampaikan penghargaan tinggi kepada ratusan relawan serta puluhan Desa Tanggap Bencana (Destana) yang kerap menjadi garda terdepan saat bencana datang tanpa peringatan dini memadai.
Sementara itu, Wakil Bupati Imron Rizkyarno menyoroti keterbatasan peralatan evakuasi yang dimiliki BPBD setempat. "Kami masih mengandalkan alat-alat standar. Padahal dalam kondisi darurat, peralatan modern seperti hydraulic cutter, thermal imaging, atau drone pemantau sangat dibutuhkan untuk mempercepat proses evakuasi dan meminimalisir korban jiwa," ujar Imron.
Ia menegaskan bahwa jika intensitas dan frekuensi bencana terus melonjak akibat perubahan iklim global yang semakin nyata, pemerintah kabupaten akan terpaksa mencari skema pembiayaan tambahan, baik melalui realokasi anggaran, bantuan provinsi, maupun kerja sama dengan pihak swasta dan lembaga filantropi.
Di tengah ketidakpastian cuaca yang kian sulit diprediksi, Wonogiri kini berada pada posisi krusial: di satu sisi harus tetap menjaga stabilitas keuangan daerah, di sisi lain wajib memastikan keselamatan warganya tidak tergadaikan. Musim hujan yang baru dimulai menjadi ujian nyata bagi ketangguhan sistem penanggulangan bencana di kabupaten yang secara geografis memang rentan terhadap ancaman alam.
(Katman)