Wonogiri Memasuki Zona Merah Hidrometeorologi: Longsor Hantam Rumah Warga Jatisrono, BPBD Perketat Kesiapsiagaan
Cakrawala8.com
Wonogiri, 24 November 2025 - Intensitas hujan yang meningkat sejak pertengahan Oktober 2025 kembali mengingatkan Kabupaten Wonogiri akan kerentanan hidrometeorologinya. Pada Minggu (23/11) pukul 16.00 WIB, talud milik tetangga di Lingkungan Kelurahan Pelem, Kecamatan Jatisrono, ambruk akibat guyuran hujan deras dan menghantam rumah milik Hartono, warga setempat.
Bagian dinding dan atap rumah rusak berat, dengan kerugian materiil diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah. Proses evakuasi dan pembersihan material longsor dilakukan secara gotong-royong oleh warga bersama relawan Desa Pelem, relawan Keduang Kecamatan Jatisrono, serta personel TNI-Polri yang segera dikerahkan ke lokasi.
Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, namun kejadian tersebut menjadi peringatan dini bahwa musim hujan 2025/2026 telah memasuki fase kritis. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Wonogiri, Fuad Wahyu Pratama, menegaskan bahwa Wonogiri secara konsisten masuk kategori zona merah bencana hidrometeorologi setiap musim hujan.
"Dominasi ancaman tertinggi tetap tanah longsor, disusul banjir lokal dan angin puting beliung," ujarnya. Pola sebaran bencana di Wonogiri menunjukkan variasi geografis yang khas. Wilayah timur — meliputi Tirtomoyo, Karangtengah, dan Jatiroto — mencatat frekuensi longsor tertinggi akibat kontur perbukitan dan curah hujan orografis yang intens.
Sementara wilayah selatan berupa dataran karst (Paranggupito, Giritontro, Pracimantoro) rentan mengalami banjir kilat ketika luweng-luweng alami tersumbat sampah dan sedimen. Angin kencang dengan risiko pohon tumbang mengancam hampir seluruh kecamatan tanpa terkecuali.
Sejak awal Oktober, Pemerintah Kabupaten Wonogiri telah mengeluarkan surat edaran kesiapsiagaan bencana yang ditujukan kepada seluruh elemen pemerintahan hingga tingkat desa. Isi surat menekankan pentingnya kerja bakti massal membersihkan saluran air, pemangkasan pohon rawan tumbang, serta kewaspadaan dini terhadap tanda-tanda pergerakan tanah bagi penduduk di lereng bukit.
"Kami mengimbau warga yang mendapati retakan baru pada tanah, dinding rumah, atau tiang listrik segera melapor ke kepala desa atau posko BPBD terdekat," tambah Fuad.
Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Wonogiri, Sri Maryati, menyatakan bahwa tahun ini pihaknya mempercepat pemasangan sistem peringatan dini (Early Warning System) di titik-titik rawan longsor dan banjir. "Beberapa kecamatan prioritas sudah terpasang EWS generasi terbaru yang mampu mendeteksi pergerakan tanah hingga 0,5 milimeter," ungkapnya.
Selain infrastruktur teknologi, BPBD juga mengintensifkan pendekatan pentahelix: memperkuat kapasitas relawan desa, menggelar simulasi rutin, serta memperluas edukasi risiko bencana melalui berbagai kanal komunikasi. Koordinasi lintas sektor dengan Basarnas, TNI, Polri, dan organisasi kemanusiaan terus dijaga dalam status siaga 24 jam.
Kejadian di Jatisrono menjadi cermin bahwa kesiapsiagaan kolektif masih menjadi kunci utama. Di tengah prediksi BMKG bahwa La Niña moderat akan memperpanjang periode hujan hingga Maret 2026, Wonogiri kembali diuji untuk mengimplementasikan pelajaran dari bencana-bencana sebelumnya — mengubah kerentanan menjadi ketangguhan bersama.
(Katman)